Senin, 30 November 2009

Islam! Agama yang Fleksibel

Islam! Agama yang Fleksibel

Islam adalah agama yang fleksibel, akhir-akhir ini saya sering mendengar kata-kata seperti itu di sekolah. Tapi ada beberapa orang yang salah mengartikannya, khususnya beberapa pemikir islam yang keluar dari ajaran agama yang benar (saya tidak menganggap semua pemikir islam itu keluar dari ajaran agama yang benar). Memang, seorang pemikir islam seharusnya mempunyai iman yang kuat untuk mengimbangi kepintaran mereka, kalo seorang filosof islam hanya menggunakan akal mereka, kemungkina besar kesesatan akan menghampiri mereka. Contohnya kalimat “islam adalah agama yang fleksibel”, menurut mereka (pemikir yang keluar dari agama yang benar) pekerjaan seorang PSK itu bisa menjadi “halal” dengan alasan karena mereka melakukan itu untuk makan, sebab tidak ada orang yang mau memberi mereka makan. Tapi apakah semudah itu suatu yang haram bisa menjadi halal? Menurut agama tidak!, islam memang agama yang fleksibel, tapi tidak semudah itu suatu yang haram menjadi halal! memang ada keterangan yang menjelaskan bahwa orang boleh memakan bangkai atau makanan dan minuman yang diharamkan sebab dalam keadaan terpaksa, tapi itu juga dengan catatan tidak ada yang dapat dimakan kecuali itu, dan jika ia tidak memakannya ia bisa meninggal, dan memakannya juga hanya sekedar kebutuhan saja (jika dengan satu suapan saja sudah dapat untuk menyambung hidup tidak boleh ditambah satu suapan lagi).

Selain itu juga ada beberapa da’I yang menyimpang karena alasan seperti itu, akhir-akhir ini sedang ngetren berdakwah sambil memainkan alatulmalahi / alat lelahan / alat music yang bernada. Padahal sudah jelas, bahwa kita dilarang memainkan alatulmalahi. Tapi, menurut mereka itu adalah boleh karena mereka mempunyai niat untuk berdakwah bukan untuk memainkan music. Walaupun mereka punya alasan seperti itu, itu tetap tidak dibenarkan. Karena jika ada sesuatu yang baik bercampur dengan suatu yang buruk, maka yang menang adalah suatu yang buruk tersebut. Selain itu ada pula yang punya alasan lain, yaitu mereka berdakwah seperti itu untuk melestarikan cara berdakwah para Sunan, seperti : Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Jadi, Kalau mereka dilarang berdakwah seperti itu, mereka akan berkata; “kenapa kita tidak boleh, padahal para sunan kan juga berdakwah seperti ini”. Padahal para sunan berdakwah seperti itu karena memang zaman dahulu masyarakat jawa sulit dipisahkan dari kebudayaan tersebut, kemudian para sunan punya ide untuk mendekati mereka dengan cara menggunakan kebudayaan mereka untuk menarik perhatian mereka, untuk kemudian dihilangkan sedikit demi sedikit kebudayaan yang menyimpang dari ajaran islam dan itu berhasil. Jadi kenapa sekarang mereka (para da’I yang menyimpang) menghidupkan kembali kebudayaan masyarakat jawa yang menyimpang tersebut, padahal para sunan sudah susah payah memisahkan budaya tersebut dari masyarakat jawa. Selain itu kita juga tidak boleh meniru tindakan para Waliyullah yang tidak wajar jika kita tidak tahu alasan dan ilmunya. Jika kita tidak mampu berjalan diatas samudera, kita tidak boleh meniru Waliyullah yang mampu berjalan diatas samudera, jika kita meniru niscaya kita akan tenggelam. Kita saja ma’unah nggak punya kok coba-coba meniru para Waliyullah yang punya banyak karomah! Ada kisah : Suatu ketika ada seorang ibu yang berkunjung ke pesantren Syeikh Abdul Qodir Jaelani, ia bermaksud menjenguk anaknya, setelah bertemu ibu itu kaget karena melihat anaknya yang menjadi kurus. Setelah diselidiki ternyata makanan anaknya itu makanan yang tidak enak. Kemudian ia menemui Syeikh, dan ia melihat makanan Syeikh itu adalah ayam, kemudian ibu itu protes kepada Syeikh. Kemudian Syeikh mengumpulkan tulang-tulang ayam dan atas izin Allah ayam itu diubah kembali menjadi ayam yang hidup dan berkokok mengucapkan kalimat Syahadat. Kemudian Syeikh berkata “Jika anak ibu sudah bisa melakukan seperti itu, dia boleh makan yang dia inginkan. Cerita ini menunjukkan kita dilarang meniru tindakan ulama’ yang menurut kita tidak wajar. Begitupun para da’i seperti yang disebut tadi “Jika mereka (da’i yang disebut tadi) tidak mampu mengubah buah kolang-kaling menjadi emas jangan coba meniru cara berdakwah Sunan Bonang”. Walapun begitu kita tidak boleh menganggap cara berdakwah Sunan Bonang itu salah, karena kita tidak tahu alasan sebenarnya.

Jadi benarkah pekerjaan seorang PSK itu bisa menjadi halal? padahal mereka sudah menjadikannya sebagai profesi, dan juga sebenarnya masih ada jalan lain (pekerjaan yang halal) untuk mereka, seperti mencucikan pakaian, menjadi PRT, atau lain-lain. Mungkin mereka malu punya pekerjaan seperti itu, apalagi hasil yang didapat tidaklah seberapa. Jadi menurut syara’ pekerjaan PSK itu hukumnya tetap haram! Jadi, jangan sampai kita mudah terbujuk dengan ajaran-ajaran beberapa filosof islam yang menyimpang hanya karena ucapan mereka yang menarik.

Dan benarkah berdakwah sambil menggunakan alatulmalahi itu boleh? padahal itu malah membuat muslimin menjadi jauh dari kebenaran. Yaitu jika kita bertanya kepada orang yang menghadiri pengajian itu: (Bagaimana pengajiannya? Munkin mereka akan menjawab; Kyainya suaranya bagus dan lagunya juga enak didengar. Apa isi pengajiannya? Munkin mereka akan menjawab; apa ya…. Saya lupa). Sangat ironis! jika itu benar-benar terjadi. Jadi kalo dampaknya negative, apakah masih ada yang membenarkan cara berdakwah seperti itu. Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yang jauh dari kebenaran. Amien……





Kajen, 29 November 2009 Blogger


0 komentar:

hazimeazza © 2008 Por *Templates para Você*